MAKAM ABDURRAHMAN GANJUR



ABDURRAHMAN GANJUR
Haul Kyai Abdurrahman Ganjur tahun 2015, dilaksanakan di masjid Jami’ Siradjuddin dan di Musholla Pondok Pesantren Assalafi Miftahul Huda Maulud 1436 H atau pada tanggal 11-12 Februari 2015.
Siapakah Kyai Abdurrahman Ganjur itu ?
Abdurrahman Ganjur yang nama kecilnya Abdurrahman lahir di Persia, putra dari Syeh Maulana Mahgribi dan Nyi Syamsiyah. Sebenarnya Syeh Maulana Mahgribi adalah nama suatu gelar, bagi mereka yang berdagang sambil mensiarkan agama Islam. Pada suatu ketika Syeh Maulana Mahgribi pergi ke tanah Jawa, yang lama tidak pulang ke Persia. Abdurrahman yang masih kecil selalu menangis, dan menanyakan keberadaan sang ayah. Akhirnya Nyi Samsiyah bersama putranya menyusul ke tanah Jawa, dan turun di pelabuhan Cirebon. Mereka berdua jadi kebingungan ketika sampai di tanah Jawa, karena daerahnya yang masih berhutan lebat. Mereka berdua akhirnya bertemu dengan Sunan Gunung jati, dan kemudian dihantarkan ke Demak untuk mencari ayahnya. Karena tidak bisa bertemu dengan Syeh Maulana Mahgribi, oleh Sunan Kalijaga mereka diberi tugas untuk membantu dalam pendirian masjid dan kraton Demak. Nyi Syamsiyah diberi tugas memasak, sedangkan Abdurrahman yang masih kecil mengumpulkan tatal (kayu) untuk memasak. Abdurrahman juga diberi tugas membunyikan gong, sebagai tanda kepada para santri untuk melaksanakan sholat 5 waktu. Kadang Abdurrahman ikut membantu para santri, memasukkan lubang kayu pada pasak. Keunikan Abdurrahman dalam memasukkan lubang kayu pada pasak serta memukul gong, dengan cara dipukul dengan kepalan tangan (diganjur-jawa). Oleh karena itu para santri memberi julukan kepada Abdurrahman, dengan panggilan “Abdurrahman Ganjur Godomustiko”. Sunan Kalijaga tahu akan kelebihan yang dimiliki Abdurrahman, maka dia diangkat sebagai muridnya. Konon Sunan Kalijaga pernah mengujinya, dengan menyuruh menentukan arah kiblat masjid Demak yang sedang dibangun. Setelah masjid dan kraton Demak berdiri, Sunan kalijaga mengangkatnya sebagai merbot masjid Demak dengan nama “Kyai Abdurrahman Ganjur Godomustiko”.
Keinginan Kyai Abdurrahman Ganjur Godomustiko untuk bertemu ayahnya muncul lagi, dan oleh Sunan Kalijaga disuruhnya pergi ke daerah hulu sungai Tuntang. Sesampainya di daerah Ngroto (sekarang), beliau berhenti dan menetap di daerah itu untuk menunggu ayahnya yang diperkirakan akan lewat di sungai Tuntang. Konon cerita beliau dapat bertemu sekali dengan ayahnya, tetapi hanya sebentar karena sang ayah ada keperluan pergi ke Demak untuk bertemu dengan para wali yang sedang berkumpul di Demak. Nyi Syamsiyah akhirnya menyusul putranya Kyai Abdurrahman Ganjur Godomustiko di daerah Ngroto (sekarang), dan keduanya tinggal disana untuk menunggu suami/ayah yang akan menyusul ke daerah Ngroto. Sambil menunggu kedatangan Syeh Maulana mahgribi, mereka berdua mengajarkan ilmu agama pada penduduk setempat. Mereka mengajarkan ilmunya menggunakan kitab kuning ala Persia, dengan huruf dan ejaan Arab Pegon. Bertahun-tahun mereka menunggu, yang ternyata Syeh Maulana Mahgribi tidak juga datang ke Ngroto. Nyi Syamsiyah meninggal dunia dalam usia yang sudah tua, dan dimakamkan di pinggir sungai Tuntang. Kyai Abdurrahman Ganjur Godomustiko yang setiap hari hanya mengajar ilmu agama dan menunggu kedatangan ayahnya di pinggir sungai Tuntang, sehingga tidak ada keinginan untuk kawin (wadat). Beberapa tahun kemudian beliau wafat, dan dimakamkan di pinggir sungai Tuntang disisi makam ibunya. Karena sungai Tuntang yang sering banjir, makam keduanya tertutup oleh lumpur sehingga hilang tidak berbekas. Sekitar dua abad kemudian makamnya ditemukan oleh Kyai Siradjuddin, seorang Kyai dari Jawa Timur yang diminta oleh kepala dukuh Ngroto Ki Demang Khamidin untuk mengajarkan ilmunya kepada penduduk Ngroto. (data dari para sesepuh desa Ngroto dibantu oleh cah ngroto.NET)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "MAKAM ABDURRAHMAN GANJUR"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel