Tradisi Perang Lumpur di Lemah Putih, Brati


Ada sebuah tradisi  unik yang dilakukan warga dusun Lemah putih, desa Lemah putih, Brati, Grobogan, Jawa Tengah. "Perang Lumpur" ,tradisi tiga tahunan ini selalu ramai dan menyedot perhatian warga di sekitarnya.


Sebenarnya tradisi ini adalah acara tiga tahunan dalam rangka "kuras sumur dieng".Menurut penjelasan kades Lemah putih, Hartoyo, acara kuras sumur tersebut dilakukan setiap tiga tahun sekali pada bulan September, hari Kamis Kliwon(pasaran jawa). "Menguras sumur ini agar sumber airnya lancar, sehingga bisa dimanfaatkan dengan baik. Sedangkan perang lumpurnya hanya untuk memeriahkan saja, serta adanya kebersamaan antar warga, " jelasnya.


Walaupun harus berkotor-kotoran, warga mengaku senang mengikuti acara perang lumpur. Tidak ada perasaan dendam ataupun marah saat muka dan anggota badan mereka  diolesi lumpur oleh peserta yang lain. "Kenapa harus marah, ini kan tradisi sudah turun -temurun. Jadi kita sebagai warga Lemah putih harus melestarikan tradisi ini, " jelas Haryanto. 


Sebelum acara perang lumpur dan pengurasan sumur dieng dimulai, terlebih dahulu dilakukan acara syukuran.Setiap warga laki-laki membawa sedekah berupa nasi putih beserta lauk-pauknya. Sedekah tersebut dimakan bersama-sama sebelum acara pengurasan dimulai.


Untuk menguras sumur saja, warga masih percaya dengan tradisi nenek moyangnya, yaitu menggunakan dunak( bakul besar dari anyama bambu). " Jika tidak pakai dunak, air gak bakal kering mas, " jelas Suwoyo.

Untuk menambah meriahnya acara, kuras sumur dieng ini diisi dengan hiburan langen tayub sehari semalam. Warga rela patungan untuk mensukseskan acara tiga tahunan tersebut. "Warga iuran per kk untuk memenuhi semua kebutuhan acara, per kk kita tarik 100 ribu, " jelas kades Lemah putih. (Iyant RE)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Tradisi Perang Lumpur di Lemah Putih, Brati"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel